Siswa Harvard Bongkar Ciri-Ciri Orang Berhasil Pelihara Tuyul

Fahrenheitbot.my.id –

Jakarta – Antropolog Suwardi Endraswara di Dunia Hantu Orang Jawa (2004) mengumumkan sudah ada dari ribuan tahun lalu orang Jawa mengenal hantu. Salah satu yang mana dikenalnya adalah tuyul, hantu anak kecil berkepala pelontos yang tersebut suka mencuri uang diam-diam dari rumah ke rumah. 

Narasi tuyul pada alam pikir orang Jawa rupanya menarik perhatian peserta didik Harvard University, Clifford Geertz. Pada 1952, Geertz datang ke Indonesia untuk melakukan penelitian antropologi bertajuk Modjokuto Project dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Dia secara khusus ditugaskan pada wilayah Mojokuto untuk meneliti orang-orang di area sana. Belakangan, Mojokuto yang dimaksud adalah salah satu desa di dalam Kediri, Jawa Timur.

Ketika melakukan riset kemudian ‘menyatu’ dengan keberadaan masyarakat, Geertz berkenalan dengan tuyul lalu sukses merinci deskripsi mengenai hantu itu pada risetnya. 

Kala itu, Geertz mendengar cerita ada tiga orang di dalam Mojokuto yang memelihara tuyul untuk memupuk kekayaan. Mereka adalah tukang jagal, perempuan penjual tekstil, lalu saudagar yang digunakan bergelar Haji.

Ketiganya menjalin kerjasama dengan mendatangi beberapa tempat keramat umat Hindu. “[Tempat itu adalah] Borobudur di tempat Barat, Penataran di area Selatan, Bongkeng pada Timur juga makam Sunan Giri di area Gresik Utara,” tulis Geertz dalam riset yang mana kelak dibukukan berjudul The Religion of Java (1976).

Saat mendatangi tempat-tempat itu, kata Geertz, mereka itu melakukan perjanjian dengan roh. Jika roh itu memberi tuyul, maka sebagai pengganti mereka akan membunuh orang sebagai persembahan ke roh itu.

Dalam perjalanannya, para pemelihara tuyul itu benar-benar melakukan perjanjian. Ambil contoh individu saudagar bergelar Haji yang tersebut tinggal di area sebelah timur Kota. Dia diketahui memperoleh tuyul lewat perjanjian dengan roh.

Sebagai timbal balik, setiap tahun beliau harus membunuh empat orang dari beragam profesi kemudian umur agar perjanjian dengan tuyul tak sirna. Tentu apabila perjanjian itu usai, orang itu sendiri yang dimaksud akan segera rugi. 

“Dia mencari korban kemana-mana, bahkan mencarinya pada Mekkah,” tutur Geertz. 

Beranjak dari pengamatan tiga orang tersebut, Geertz menyebut beberapa ciri orang pemelihara tuyul, antara lain: 

  1. Kaya raya atau menjadi kaya secara mendadak
  2. Kikir
  3. Sering menggunakan pakaian bekas
  4. Sering mandi di tempat sungai bersatu para kuli miskin
  5. Selalu menyantap makanan orang miskin, seperti jagung kemudian singkong, ketimbang nasi

Kelima ciri yang disebutkan tentu hanya untuk mengelabui orang-orang supaya dianggap tiada punya uang padahal di dalam rumahnya selalu penuh dengan emas batangan. Selain itu dari segi sosial, para pemelihara tuyul juga rutin melakukan penyimpangan.

Mereka rutin bicara keras kemudian agresif. Di sisi lain, merekan kurang sopan santun, berpakaian cerobong, dan juga terus-menerus punya kebiasaan tak lazim pada membagi pemikirannya.

Namun, seseorang pemelihara tuyul akan mengalami kesulitan ketika meninggal. Dia akan mengalami kematian yang digunakan lambat dan juga sulit.

Lalu, sebelum meninggal nafasnya menjadi pendek disertai sakit juga demam tinggi berkepanjangan. Intinya, pada proses menuju meninggal, semua dilalui dengan sangat lambat juga berliku-liku.

Meski begitu, kata Geertz, proses kematian seperti itu merupakan “harga yang mana cukup kecil untuk dibayar”. Sebab, semasa hidup pemelihara tuyul sudah ada puas dengan kekayaan yang diperoleh dari hasil curian tersebut.  

Selain tuyul, Geertz juga mengamati tiga hantu lain di mahakarya The Religion of Java, antara lain memedi, lelembut, lalu dedemit. Berkat riset di tempat Mojokuto itu, Geertz menjadi salah satu antropolog terkemuka yang secara spesifik meneliti rakyat Indonesia. 

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *